Sejarah Candi Borobudur yang Tidak Banyak Diketahui Oleh Orang
Share
Share
Share

Sejarah Candi Borobudur yang Tidak Banyak Diketahui Oleh Orang

04 January 2021 By Wonderin id

Share
Share
Share

Sejarah Candi Borobudur mungkin sudah banyak diketahui oleh kebanyakan orang. Namun mungkin hanya sejarah dasarnya saja yang diketahui. Sedangkan untuk beberapa cerita lain tentang candi ini mungkin tidak banyak orang tahu. Apalagi ada beberapa versi cerita dari Candi Borobudur yang menjadi salah satu ikon wisata tersebut.

Sebenarnya, sejarah dari candi ini sudah banyak ditulis di berbagai tempat. Media internet, jurnal ilmiah, hingga papan pengumuman adalah beberapa tempat di mana Anda bisa mengetahuinya. Beberapa cerita tersebut memang sudah lengkap dengan adanya beberapa bukti. Selain itu juga didukung dengan temuan arkeologis dan literatur.

Beberapa orang memiliki pandangan berbeda tentang sejarahnya candi ini. Bagi golongan ilmuan, Borobudur dibangun pada masa kerajaan Buddha. Namun bagi beberapa orang meyakini bahwa candi ini adalah salah satu buatan Nabi Sulaiman. Lalu, seperti apa sebenarnya sejarah candi ini dan apa saja cerita dibaliknya?

Awal Mula Dibangun dan Ceritanya

Bagi kalangan akademis, sejarah Candi Borobudur dapat dilihat dari beberapa aksara di dinding batu. Dalam catatan tersebut, diketahui bahwa bangunan telah didirikan pada abad 8 hingga 9 Masehi. Dalam catatan tersebut dapat diketahui bahwa setidaknya membutuhkan waktu hingga 75 tahun untuk menyelesaikan seluruh bangunan.

Candi ini dibangun pada masa Dinasti Syailendra, tepatnya selesai pada masa Raja Samaratungga pada tahun 825 Masehi. Ada yang menarik dari bangunan ini, yaitu tentang kepercayaan yang dianut oleh Wangsa Syailendra. Banyak pihak yang menilai bahwa dulunya mereka beragama Hindu Siwa, namun beralih Buddha Mahayana.

Asal Usul Nama Candi Borobudur

Nama Borobudur sendiri masih belum jelas darimana asalnya dan hingga kini masih banyak perdebatan tentang nama tersebut. Thomas Stamford Raffles adalah orang pertama yang menulis bangunan bernama Borobudur di The History of Jawa miliknya. Selain itu, tidak ada naskah tertulis lain yang mendukung nama tersebut.

Namun, dari literatur dan kepercayaan umat Buddha, Borobudur berasal dari “Sambhara-Bhudhara”. Istilah tersebut memiliki arti sebagai gunung yang memiliki lereng dengan bentuk teras-teras. Hal tersebut karena bangunan ini cukup besar jika dibandingkan dengan bangunan lain pada masanya, misalnya seperti Candi Mendut dan Candi Pawon.

Konsep Rancang Bangunan Candi Borobudur

Sejarah Candi Borobudur memang sangat erat hubungannya dengan kosmologi umat Buddha. Jika dilihat dari atas secara keseluruhan, maka bentuk bangunan ini menyerupai pola Mandala. Pola ini sendiri merupakan simbol dari alam semesta dengan menggabungkan unsur simetris bangunan yang cukup rumit untuk dipahami oleh orang awam.

Borobudur memiliki 10 pelataran yang juga melambangkan mahzab aliran Mahayana. Aliran ini sangat erat hubungannya dengan penciptaan alam semesta yang kemudian disimbolkan dalam pola tertentu. Jika dihubungkan dengan kitab umat Buddha, maka 10 pelataran ibarat seperti 10 tingkatan Bodhisatva sebelum mendapat kesempurnaan sebagai Buddha.

Tingkatan Spiritual Kosmologis Agama Buddha

Sejarah Candi Borobudur tidak terlepas dari mitologi kosmologis yang ada dalam ajaran umat Buddha. Ada tiga tingkatan dalam ranah spiritual kosmologis umat Buddha, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Setiap tingkatan memiliki cerita dan makna sendiri yang harus ditempuh oleh setiap pemeluk agama Buddha.

Kamadhatu adalah bagian paling bawah di mana dunia masih dipenuhi dengan “kama” atau nafsu rendah. Pada bangunan Borobudur, bagian Kamadhatu sebagian besar sudah tertutup oleh tanah dan batu. Hal ini untuk menjaga bangunan supaya tetap kokoh. Pada bagian ini, ada 160 panel yang menceritakan tentang Karmawibhangga.

Rupadhatu adalah bagian dari 4 undakan teras atas yang membentuk seperti lorong keliling dengan banyak relief Buddha. Ada sekitar gambar relief pada 4 lorong undakan tersebut. Rupadhatu memiliki makna sebagai alam antara, yaitu dunia yang sudah lepas dari “kama” namun masih terikat dengan bentuk.

Sedangkan untuk Arupadhatu adalah lantai 5 hingga 7 dengan tidak ada relief di sepanjang lorong. Hal ini memiliki makna bahwa manusia sudah memasuki alam atas yang sudah lepas dari bentuk dan rupa. Meninggalkan semua keinginan fana, namun belum mencapai nirvana.

Borobudur memang memiliki cerita dan sejarah yang sangat erat hubungannya dengan kosmologis ajaran Buddha Mahayana. Cerita-cerita ini membuatnya memiliki nilai yang tersendiri, bahkan menjadi salah satu warisan budaya dunia. Karena itu, Anda perlu mengetahui sejarah Candi Borobudur sebelum mengunjunginya. [wonderin]

Daftar Travel Agen terbaik ke Borobudur

Komentar

Komentar