Merasakan Jadi Warlok di Rinca
Share
Share
Share

Merasakan Jadi Warlok di Rinca

14 December 2020 By Purwobhakti ENS

Share
Share
Share

Sembilan hari saya tempuh dari Lumajang menggunakan motor, karena memang saya tidak ingin terburu-buru dan menikmati perjalanan. Singkat cerita, saya berada Pelabuhan Sape pukul 7 pagi. Selepas membeli tiket, saya masuk ke dalam kapal. Total perjalanan yang akan ditempuh adalah 9 jam, dan saya gunakan untuk tidur. 2 jam terakhir sebelum kapal bersandar saya naik ke atas kapal, mata dimanjakan dengan gugusan pulau yang tidak habis-habis. Dari kejauhan sudah mulai tampak Labuan Bajo bak Positano di Italia sana. Semakin dekat dengan daratan semakin kencang detak jantung saya, 9 hari menaiki motor akhirnya saya menginjakkan kaki di Labuan Bajo. Akhirnya perjalanan panjang saya sementara ini singgah di Labuan Bajo. Turun dari kapal, para penumpang harus menunjukkan beberapa dokumen seperti kartu identitas dan surat rapid test yang masih berlaku. Pelan-pelan saya menarik gas keluar dari pelabuhan, jalanan sekitar pelabuhan dipenuhi para pekerja dan beberapa kendaraan berat karena memang sepanjang Jalan Soekarno Hatta sedang pembangunan sarana prasarana umum. Jalanan dipenuhi debu, tapi tidak bisa mengganggu euforia bahagia saya. Sepanjang jalan saya hanya tersenyum kegirangan. Kebetulan ada beberapa kawan di sini yang dengan baik hati memberi saya tumpangan untuk tinggal beberapa minggu. Bertepatan pula dengan Waktu Indonesia Bagian Senja, saya menuju tempat tinggal kawan tersebut.

Beberapa hari saya di Labuan Bajo, saya mendapat ajakan dari Edy, warga lokal, untuk menginap beberapa hari di Pulau Rinca. Pulau habitat asli reptil purba, komodo. Tentu saya iyakan tawaran itu. Menurut saya melihat komodo yang hidup berdampingan dengan manusia sangat menarik.

Setelah sholat jumat di sekitar pelabuhan, saya dan Edy langsung menuju kapal yang memang menjadi satu-satunya transportasi warga Rinca ke Labuan Bajo begitupun sebaliknya. Kapal berkapasitas 15-20 orang ini memakan waktu 1,5 jam untuk tiba di Pulau Rinca. Bertepatan dengan hujan yang berganti mendung mengiringi perjalanan kami. Kumandang adzan menunjukkan waktu Ashar, kami tiba di Pulau Rinca. Perkampungan kecil di salah satu bagian pesisir Pulau Rinca ini yang akan jadi tempat singgah saya untuk 3 hari ke depan. Edy mengajak saya untuk ke rumahnya menaruh bawaan kami untuk kemudian lanjut trekking ke Goa Kalong dan menikmati sunset di bukit yang berada di atasnya. Edy yang juga pernah menjadi ranger di Taman Nasional Komodo mengatakan bahwa aktivitas komodo hanya sampai sore, jadi kemungkinan besar kita tidak akan menemukan komodo. Karena itu saya tidak berekspektasi apa-apa. Sekitar 30 menit kami trekking dari perkampungan hingga tiba di Goa Kalong. Edy menunjukkan beberapa lubang goa dengan bau menyengat dari kotoran kalong. Tiba di lubang terbesar dari goa saya dikejutkan dengan teriakan Edy yang menunjuk pada bagian dalam goa. “Lihat itu, komodo!” ujar Edy. Untuk pertama kalinya saya melihat komodo di habitat aslinya, sedang diam bersantai di dalam goa. Saya yang excited mendekat, tapi belum sempat saya mengeluarkan kamera, si komo masuk ke bagian lebih dalam dari goa. Tapi itu cukup bagi saya, melihat suatu hal yang saya impikan tanpa disengaja. Priceless. Setelah momen itu kami sempat menunggu beberapa saat berharap komodo keluar, tapi kenyataan berkata lain. Kami melanjutkan berjalan menuju bukit untuk menikmati sunset dengan pemandangan Pulau Kalong.

Makan malam dihidangkan oleh ibu Edy di ruang tengah, kami makan diiringi obrolan dari ayahnya. Kebetulan disitu ada juga nenek Edy yang usianya sudah hampir 1 abad. Menariknya, beliau adalah salah satu korban dari gigitan komodo yang masih hidup. Sejak kasus pertama tahun 1982, sudah ada 6 kasus warga Rinca yang digigit oleh komodo. Beliau adalah warga Rinca ke-5. Kejadiannya tahun 2013 saat beliau menggarap kebunnya yang letaknya berada di belakang kampung. Tiba-tiba seekor komodo berukuran 3-4 meter menggigit kaki bagian betis. Kata ayah Edy, “biasanya kalo komodo sudah gigit, ga akan mau lepas karena ada darah disitu”, “tapi waktu itu nenek bilang, salah gigit kamu, kita sama-sama darah komodo”. Ajaibnya komodo itu melepaskan gigitannya dan pergi. Melihat ukurannya yang besar, bisa jadi nenek meninggal, tapi Tuhan berkehendak lain. Dengan pincang dan kesakitan beliau masih bisa pulang ke rumah. Keluarga yang panik langsung menelepon pihak taman nasional untuk segera diberikan vaksin karena air liur komodo yang beracun. Setelah menghabiskan 12 botol vaksin, racun itu bisa teratasi. Nenek Edy seringkali dikunjungi oleh wisatawan yang ingin tahu cerita menariknya digigit komodo dan masih selamat. Tapi semenjak pandemi sudah tidak ada lagi yang mengunjungi beliau.

Edy membangunkan saya cukup pagi di hari ke-2 saya berada di Rinca. “Biasanya kalau pagi begini ada komodo di dekat sekolah”, ujarnya. Saya langsung bergegas bangun dan siap-siap. Benar saja, ketika kami tiba di sekolah ada seekor komodo yang sedang jalan santai di depan pagar sekolah. Dibanding kemarin sore, mata saya bisa lebih jelas melihat komodo yang ini. Belum sempat saya mengeluarkan kamera, komodo itu sudah berjalan pergi. Tapi saya sangat puas bisa melihat komodo dengan jarak 3-4 meter, sedekat itu di habitat liarnya. Hari itu sangat terik, kami memutuskan untuk bersantai di dermaga dengan pemuda lokal yang juga sedang mencari jaringan internet, karena hanya di dermaga yang jaringannya cukup stabil sembari menunggu sore untuk kemudian berkayak menyeberang ke Pulau Pempeng dan sunset di Pulau Kalong.

Waktu menunjukkan pukul 4, saya dan Edy menyiapkan kayak miliknya dengan dipompa untuk kami gunakan menyeberang. Itu pengalaman pertama kali saya bermain kayak. Edy mengajak untuk ke Pulau Pempeng dulu sebelum menikmati sunset di Pulau Kalong. 1 jam kami habiskan untuk tiba di Pulau Pempeng. Disana sudah ada beberapa kapal yang juga singgah sebelum momen sunset. Di Pempeng kami tidak terlalu lama karena tujuan utama kami adalah sunset di Pulau Kalong. Lagi-lagi beruntung, cuaca sedang bagus. Langit cerah, padahal beberapa hari terakhir seringkali hujan. Matahari terlihat bulat sangat jelas jatuh diantara gugusan pulau jauh di depan. Bertepatan dengan matahari yang sudah terbenam, ratusan kalong berterbangan dari pulau tiap detiknya. Bisa dibayangkan berapa ribu ekor yang ada dalam pulau tersebut. Momen itu yang jadi salah satu primadona para travel agen yang menjual paket LOB nya. Saya terdiam di atas kayak yang bergoyang di tengah laut menikmati keindahan yang ada di depan mata saya. “Keren, keren, alig, idih”, berkali-kali keluar dari mulut. Jika saja tidak ingat kami harus mengayun dayung pulang ke Rinca, sudah pasti hingga gelap saya masih betah disana.

Daftar Travel Agen terbaik ke Manggarai barat

Komentar

Silahkan Login terlebih dahulu untuk berkomentar
Login