Serpihan Surga di Tanjung Aan - Mandalika
Share
Share
Share

Serpihan Surga di Tanjung Aan - Mandalika

Share
Share
Share

Pertama kali memasuki kawasan pantai Tanjung Aan ini, saya tertegun. Waktu itu pukul 11 siang. Hamparan air laut yang biru, bertepikan pasir putih bersih adalah surga buat para fotografer. Terutama yang amatir seperti saya. Landscape yang sudah indah dan ‘jadi’ seperti ini, jelas akan sangat membantu hasil foto saya nanti. Tidak perlu upaya apapun untuk mempercantiknya di post-processing, sudah pasti hasilnya akan bagus. Tidak perlu teknik khusus. Inilah yang membuat saya tak henti menyeringai kegirangan.

Kamera dengan lensa wide sudah dalam genggaman tangan. Saya sapukan pandangan berkeliling mencari sudut pemotretan yang tepat. Semua bagus. Justru ini yang membingungkan. Darimana harus memulai jepretan ini. Akhirnya, saya menemukan salah satu spot yang melambangkan keindahan panti ini. Biru-putih-tenang-hening. Kombinasi itulah yang mewakili pantai ini. Perwujudannya adalah sebuah bangunan peneduh berbentuk payung beratapkan rumbia yang mungkin untuk turis yang ingin menikmati pantai dari tepi, setelah lelah bermain air di laut. Di sekeliling saya, hanya ada beberapa turis bule bertelanjang dada duduk berteduh di payung rumbia satunya. Bercengkerama dengan kawannya, entah membicarakan apa. Namun,saya yakin melihat gesture tubuhnya yang malas malasan dan banyak senyum tanpa mengalihkan pandangan dari laut di depannya, dia menikmati betul indahnya pemandangan disini. 

Saya bergeser menjauh, agar mendapatkan sudut foto yang pas. Hanya dengan 3 kali jepretan, saya sudah langsung mendapatkan foto yang saya inginkan. Persis seperti impian saya selama ini tentang wujud pantai yang tenang, bersih, dan berwarna biru akibat pantulan langit yang bersih tanpa polusi. Ya, pantai Tanjung Aan inilah yang menjawab impianku selama ini. 

Tiba tiba ada hal yang menyeruak aneh pada diri saya. Biasanya, jika menemukan obyek foto yang menarik, saya tidak henti untuk bergelut dengan kamera saya. Pokoknya harus mengeksploitasi obyek itu semaksimal mungkin demi mendapatkan foto yang bagus. Namun, kali ini tidak. Saya merasa cukup dengan hanya menjepretkan beberapa foto. Setelah itu, saya terdiam. Saya berteduh, serta meletakkan kamera saya di sisi saya. Saya sandarkan punggung di tiang payung rumbia ini, agar bisa lebih nikmat melihat pemandangan di depan saya. Hamparan air laut yang tenang, dengan pasir putihnya. Tampak satu dua orang turis asing dengan bikini baru keluar dari air laut itu, sambil mengibaskan rambutnya yang kuyup oleh air. Wajah terlihat sangat menikmati semua ini. Bersama teman atau pasangannya, mereka seolah tidak bosan seharian bermain disitu. Hamparan pantai seindah ini, hanya beberapa turis saja yang menikmatinya. Seolah private beach buat mereka. Tanpa gangguan sama sekali. Sangat jauh berbeda dengan pantai manapun  yang sudah sangat hiruk pikuk tidak hanya oleh turis, namun juga oleh pedagang keliling yang menawarkan entah apa kepada para turis. Disini, sangat berbeda. Sepi dan hening. Hanya ada deburan ombak lembut. 

Saya merenung. Mengingat kembali bagaimana saya bisa sampai ke pantai nan indah ini. Ingatan saya melayang pada percakapan di suatu sore dengan teman SMA yang sudah bertahun tinggal di Lombok ini. Mengundangku untuk main kesana. Saya bimbang, karena memang saya belum pernah pergi berwisata ke daerah Indonesia Timur. Namun entah kenapa, saat itu saya langsung mengiyakannya. 

Akhirnya, saya mencari-cari penerbangan yang langsung menuju kesana. Saya beruntung. Kebetulan saat itu ada maskapai yang sedang promo tiket. Saya mendapatkan tiket seharga 700rb-an untuk one-way Semarang-Lombok Praya. Wow, ini lebih murah daripada saya ke Bali. Tanpa banyak pikir saya langsung membelinya. (belakangan baru tahu bahwa harga normalnya dari Semarang – Lombok Praya sekitar 1jt-an)

Setelah urusan cuti kantor beres, dimulailah petualangan itu. Perjalanan dari Semarang-Lombok, membutuhkan waktu 2 jam. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lama. Sedang. Sehingga mood tetap terjaga. Saya memang tidak kuat untuk perjalanan yang menghabiskan waktu lebih dari 4 jam nonstop. Jadi, ini sama sekali bukan perjalanan yang mengerikan buat saya. Saya sangat menikmati. Apalagi cuaca cerah, sehingga nyaris tidak ada turbulensi yang merupakan momok buat para penumpang. 

Sesampai di Praya, saya disambut oleh teman SMA saya. Seorang GM Hotel besar di pusat kota Mataram. Melepas rindu karena sudah hampir 10 tahun kami tidak bertemu. Saling mengungkit cerita jaman jahiliyah sewaktu kami sekelas dulu. Indahnya persahabatan. Setelah makan ayam taliwang dekat bandara, teman saya menanyakan apakah mau ke hotel dulu atau langsung menuju obyek foto pantai yang ‘sangat indah’ menurutnya. Karena jarak dari bandara ke pantai hanay 20km-an, maka saya putuskan langsung ke pantai dulu. Mumpung cuaca cerah. Cus, akhirnya meluncurlah mobil kami menuju Lombok Tengah, tempat pantai ini berada. (Saya sempat cek lokasi ini di Google Map dan Waze. Ternyata sudah ada dengan ketepatan lokasi amat sangat presisi. Jadi jangan kuatir untuk para solo traveller, peta digital sudah bisa membantu menuntun kita kesini)

Bak guide professional, teman saya ini bercerita banyak tentang kondisi pulau Lombok ini . Pulau yang masuk dalam wilayah administrasi provinsi Nusa Tenggara Barat. Provinsi yang berjuluk Pulau Seribu Masjid. Dengan bangga dia bercerita bahwa Insya Allah 2021 nanti Indonesia akan pertama kalinya menggelar event internasional Grand Prix MotoGP. Di pulau ini. Tepatnya di sirkuit Mandalika, yang kebetulan kami lewati dalam perjalanan menuju pantai Tanjung Aan ini. Saya tidak banyak bertanya atau berkomentar. Hanya ah-uh sesekali. Mata saya sibuk melihat pemandangan sepanjang kiri kanan. Betapa indahnya Indonesia ini. Keindahan alam buatan Tuhan (God creature), bukan buatan manusia. Suatu karunia yang jarang disadari oleh warganya sendiri, karena menganggap itu hal yang biasa. Inilah yang pelan pelan harus kita rubah, bahwa kita harus meningkatkan rasa syukur dan apresiasi milik kita sendiri. Menjelajah untuk lebih mengenal negeri kita sendiri. Bukan hanya orang asing yang justru menikmatinya. Bukan justru hanya orang asing yang lebih tahu keindahan alam kita. 

Ayo, kita jelajahi negeri ini.  Wonderful Indonesia, tanah air tercinta. Ayo, kita menjelajah.  Travel is the only thing you buy that makes you richer.


Wonderin

Daftar Travel Agen terbaik ke Lombok tengah

Daftar Travel Agen terbaik ke Lombok tengah

Komentar

Silahkan Login terlebih dahulu untuk berkomentar
Login