Legenda Cacing Nyale di Balik Keindahan Pantai Kuta Lombok
Share
Share
Share

Legenda Cacing Nyale di Balik Keindahan Pantai Kuta Lombok

Share
Share
Share

Pantai cantik di Indonesia bukan barang langka, tinggal kamu tunjuk sebuah daerah, setidaknya pasti punya satu pantai cantik di dalamnya, pokoknya Wonderer tinggal pilih daerah mana lalu sesuakan bajet yang kamu miliki. Berangkat, deh!

Salah satu pantai yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah Pantai Kuta. Tenang, bukan Pantai Kuta yang di Pulau Bali, melainkan Pantai Kuta yang terletak di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Berjarak sekitar 20km atau hanya 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Kecamatan Praya, Posisi Pantai Kuta berada di bagian selatan Pulau Lombok. Garis pantainya cukup panjang, sepanjang lebih dari 7km. 

Untuk melihat keindahan panorama Pantai Kuta dari ketinggian, kamu bisa mendaki Bukit Mandalika yang berada di sebelah barat pantai ini. Dari puncak bukit, deretan batu dan terumbu karang berbaris rapi, berpadu padan dengan jernihnya air laut yang deburan ombaknya sesekali menyapu putihnya pasir pantai.

Turun ke bawah, buat dirimu nyaman saat bermain snorkeling dan berselancar di titik-titik tertentu Pantai Kuta. Kamu juga bisa berramai-ramai bermain banana boat, paralayang, selancar angin, atau sekadar berkeringat dengan keliling kawasan pantai dengan menggowes sepeda sewaan. 

Festival Bau Nyale

Selain keindahan pantainya, ternyata Pantai Kuta Lombok juga sarat akan sejarah yang melegenda. Sebagai rumah dari Festival Bau Nyale, Pantai Kuta menyimpan cerita dari masa lalu yang diabadikan menjadi nama bukit di sana yakni Bukit Mandalika.

Bukit Mandalika diambil dari nama seorang putri daerah setempat. Menurut cerita, Putri Mandalika yang cantik menolak pinangan para pemuda yang mengejar-ngejarnya. Untuk melepaskan diri dari para pemuda tersebut, ia memutuskan untuk melompat dari bukit ke dalam lautan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, setelah melompat, Putri Mandalika menjelma jadi cacing laut yang disebut Nyale.

Kini, banyak cacing Nyale yang muncul ke permukaan laut dan pantai pada satu waktu setiap tahunnya. Sebagai penghormatan terhadap Nyale dan ungkapan terima kasih pada Putri Mandalika, waktu munculnya cacing-cacing tersebut dijadikan sebagai waktu digelarnya Festival Bau Nyale. Pada festival tersebut, masyarakat biasanya ramai-ramai mengumpulkan Nyale untuk diolah menjadi makanan. (HA)


Wonderin

Daftar Travel Agen terbaik ke

Komentar

Silahkan Login terlebih dahulu untuk berkomentar
Login