Menjumpai Cenderawasih dan Manta di Raja Ampat
Share
Share
Share

Menjumpai Cenderawasih dan Manta di Raja Ampat

06 October 2020 By Tomy Tresnady

Share
Share
Share

Raja Ampat (Foto: Sutirta Budiman / Unsplash)

Kalau sudah menggambarkan indahnya Raja Ampat yang wilayahnya masuk Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, seolah-olah jangan mati dulu sebelum berkunjung ke surga dunia yang ada di Indonesia bagian timur.

Kalau Wonderer ingin melancong ke Raja Ampat, ada beberapa destinasi populer yang siap memanjakan mata kamu, di antaranya Friwen Wall, Piaynemo, Arborek, Sawinggrai, Misool hingga Laguna Bintang.

Piaynemo terdapat gugusan pulau karang dengan pemandangan yang bakal bikin kamu geleng-geleng. Melihat airnya pun sangat jernih.

Di kampung Sawingrai kehidupan ikan sangat terjaga. Kamu bisa memberi makan ikan-ikan yang berenang di bawah rumah penduduk. Kamu juga bisa beraktivitas berenang atau snorkeling di kawasan Yuembuba dan Friwen Wall.

Para pelancong yang datang ke Raja Ampat kebanyakan ingin merasakan sensasi diving dan bermain-main dengan binatang-binatang yang menghuni dunia bawah laut.

Para penyelam bisa menjumpai beberapa jenis kuda laut katai, wobbegong, pari Manta, dan Eviota Raja yang menjadi ikan endemik.

Penyelam bisa bermain-main dengan ikan Manta jinak di Manta point yang berada di kawasan Selat Dampier, Kampung Arborek.

Selain itu, penyelam juga bisa merasakan sensasi luar biasa di Cape Kri atau Chicken Reef karena akan bertemu dengan gerombolan ikan yang jumlahnya ribuan. Bisa saja gerombolan ikan tuna, giant trevallies, snappers bahkan barakuda. Selain itu, penyelam bisa bertemu hiu karang dan penyu.

Dugong atau ikan duyung juga bisa dijumpai di kawasan Salawati, Batanta dan Waigeo.

Kalau Wonderer berkunjung ke kawasan gugusan Misool bisa melihat cap tangan jaman prasejarah yang menempeul di dinding batu karang.

Cap-cap tangan tersebut sangat dekat dengan permukaan laut dan tidak berada di dalam gua. Konon, usia cap tangan di gugusan Misool sudah berusia 50.000 tahun. Peninggalan karya seni manusia itu jadi petunjuk jalur penyebaran manusia dari kawasan barat Nusantara menuju Papua dan Melanesia.

Sedangkan Di Pulau Wai, penyelam bisa melihat sisa pesawat karam peninggalan Perang Dunia II.

Menurut legenda masyarakat lokal, asal mula nama Raja Ampat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir itu lalu menetas menjadi empat orang pangeran namun hidup berpisah dan keempatnya menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Sedangkan tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan batu.